Kamis, 22 Januari 2015

Sederhana dalam bertutur kata, Santun dalam bergaul, Sukses dalam berbisnis.

"Orang Sukses selalu kelebihan satu cara, Orang Gagal selalu kelebihan satu alasan"

Kemarin lalu saya baru berkunjung ke rumah seorang teman lama di wilayah Sunggal, sebuah daerah kecil yang ditempuh sekitar 30 menit lah dari pusat kota Medan. Teman lama ini telah menjadi Mitra Usaha di perusahaan lama saya berkarier. Sewaktu 4 tahun yang lalu, ketika saya ditugaskan di Jakarta, saya sempat lost contact dengan teman ini.

"Tempat Anda bagus yah, usaha pendidikan les private anda juga berkembang baik"

Yahh, teman saya ini sudah beralih profesi menjadi Guru Les Private dan membuka kelas di rukonya di daerah Sunggal. Sebuah usaha yang banyak orang masih memicingkan sebelah mata karena maybe banyak orang masih merasa bukanlah usaha yang menjanjikan, bukan bisnis yang profesional, ataupun bisnis yang bisa dibanggakan.

Persepsi banyak orang sebenarnya salah tentang usaha ini. Usaha Les Private ini merupakan salah satu cikal bakal dari usaha pendidikan yang mempunyai pangsa pasar besar sekali, bisa saja kalau berkembang menjadi buka sekolah, buka les atau kursus yang lebih formal dan memberikan sertifikasi kelulusan kepada anak muridnya.

"Terima kasih pak, yah inilah yang saya tekuni belakangan ini dengan istri saya."

Itu jawaban dari teman lama saya dengan penuh kerendahan hati. Kalau boleh jujur saya berkata, teman lama saya ini terhitung sukses dalam usahanya, apalagi bila kita bandingkan dengan orang lain seusia beliau. Hal ini terlihat dengan jelas dari banyaknya anak muridnya yang les di sana.

Saya kenal beliau sudah cukup lama, bila dihitung sudah sekitar 8 sd 9 tahun yang lalu. Dari dulu memang saya sudah mempunyai feeling bahwa anak ini bakalan sukses. Bukan dilihat dari kepintarannya, bukan juga kemampuan bicaranya, bukan juga karena latar belakang keluarganya.

Namun yang terutama sikap positifnya dan sikap rajin yang selama ini ditunjukkan beliau semasa masih aktif di bisnis lamanya. Beliau merupakan sosok pemuda yang aktif, bersemangat dan tidak pernah menyerah dalam menjalankan bisnisnya. Nyata nyatanya beliau telah memupuk hasil dari semua perjuangannya selama ini.

Setelah balik dari berkunjung ke rumah teman lama tsb, saya semakin merenung dan mendapati bahwa kebenaran pada statement ini "Sukses tidaknya seseorang sangat tergantung sikapnya dalam menjalankan hidup ini"

Sangat sederhana dan simpel namun perlu integritas dalam menjaga sikap kita supaya tetap positif dan pantang menyerah.

Sederhana dalam bertutur kata, Santun dalam bergaul, Sukses dalam berbisnis !

Yuk sama sama kita belajar Etos Bekerja tsb !
Semoga bermanfaat !


Selasa, 13 Januari 2015

Manusia yang sebenar benarnya !

"Si Tou Timou Tumou Tou"
"Manusia Hidup untuk Memanusiakan Manusia yang lainnya"

Sam Ratulangi, seorang Pahlawan Bangsa yang menyerukan ucapan ini, sangat menghentak dan menggetarkan sanubari kita semua terutama untuk Orang Sulawesi dan Manado khususnya.

Sewaktu dulu berdinas, saya sering mengunjungi Kota Manado, dan tulisan tsb selalu menghiasi Bandara di Manado bahkan menggunakan Nama Pahlawan tsb sebagai Nama Bandara yaitu Bandara Sam Ratulangi.

Saya bukan ahli sejarah juga bukanlah orang Manado, namun dari beberapa Kliping dan Cerita Sejarah tentang Tokoh ini yang membuat saya terkagum kagum. Sekolah di Luar Negri, mendapatkan pendidikan terbaik di luar sana, namun tetap mengingat "bangsa"nya yang sedang terpuruk di Indonesia.

Memiliki kecerdasan diatas rata rata, banyak orang dimasa tsb menyayangkan mengapa beliau tidak melanjutkan menjadi Dokter malahkan berkeinginan menjadi Guru Ilmu Pasti di Universitas Amsterdam tahun 1915. Melanjutkan sekolah kembali di Swiss dan mendapatkan Gelar Doktor di Universitas Zurich tahun 1919.

Namun akhirnya kembali ke Indonesia dan berjuang bersama Pahlawan Pahlawan Bangsa yang lain untuk memerdekakan Indonesia. Tragisnya Hidup Beliau berakhir di tahanan di Jakarta karena melawan Agresi Militer Belanda yg kedua.

Seorang Sam Ratulangi merupakan seorang pahlawan sejati, meninggalkan kenyamanan untuk masa depan bangsa yang lebih baik.

Di dunia hanya ada satu orang Sam Ratulangi, tidak ada lagi yang lainnya. Namun semangatnya, daya juangnya, keperduliannya, dan kecintaan akan tanah air Indonesialah yang perlu kita teladani. Bukan hanya itu, namun nilai sejarahnya patut diceritakan dan digaung gaungkan untuk generasi muda penerus bangsa. Bahwa di jaman dahulu, ada seorang pahlawan kemerdekaan yang bernama "Sam Ratulangi"

Wahai anak anak muda Indonesia ! Jadilah Sam Ratulangi berikutnya !
Jadilah Pahlawan bagi Keluarga Anda !
Si Tou Timou Tumou Tou !

Jumat, 02 Januari 2015

Pertanyaan anak saya di awal tahun 2015

"The Capacity to Learn is a Gift; The Ability to Learn is a Skill; The Willingness to Learn is a Choice" by Brian Herbert

"Papi, Jadi Orang Besar sepertinya lebih enak jadi anak anak yah ?"

Pertanyaan dari anak saya usia 8 tahun cukup mengusik saya di hari pertama tahun baru 2015. Pertanyaan ini terlontar sewaktu didalam mobil, kami sekeluarga lagi keluar untuk makan siang. Maklum hari libur merah, jadi sesekali cari makan di luar sambil menikmati kelancaran jalan raya di kota Medan tercinta.

"Jadi Orang Besar ada enaknya dan juga ada tidak enaknya dek"
Saya menjawab ke anak saya, atas pernyataan yang cukup sulit dijawab hehehe.

Bila kita jawab, jadi Orang Besar tidak enak maka anak anak saya kudu mau bertumbuh dewasa khan cilaka tiga belas saya hehehe

Bila saya jawab enak maka ada ketakutan anak anak saya terlampau cepat dewasa dan tidak menikmati kesenangan sebagai anak anak yang alami bertumbuh.

Sepertinya anak saya belum puas dengan jawaban saya, bertanya lagi "Apa enaknya jadi Orang Besar dan apa yang tidak enak, papi ?"

"Enaknya bila jadi Orang Besar, maka bisa memutuskan sesuatu sendiri secara merdeka atau bebas, Contoh : Kepingin makan Nasi Padang, yah pergi beli Nasi Padang, tidak perlu khawatir orang lain akan maksakan dia makan Nasi Uduk."

"Kepingin kerja sebagai Penyanyi yah silahkan bekerja sebagai Penyanyi, tidak perlu ikut paksaan orang lain menjadi apapun yang bukan kemauan dirinya. Orang Besar bisa bebas memilih apapun"

Anak saya langsung nyeletuk, "Saya mau jadi Koki dan juga Pelukis !"

Saya kembali bertanya "Caranya gimana dek ? Jadi sesuatu haruslah Fokus, gak bisa setengah setengah"

Anak saya kembali nyahut "Senin sd Jumat saya jadi Koki, Sabtu dan Minggu, saya jadi pelukis aja"

Ehhh benar juga apa yang dikatakannya. Saya kembali merenung, dari sudut pandang yang lain. Tidak salah loh apa yang dicita citakan anak saya. Emangnya tidak bisa sambil menjadi koki dan bisa jadi pelukis.

Pikiran kita terlalu kaku dan terkotak kotak dengan apa yang kita pelajari selama ini. Ilmu Pengetahuan selalu berubah frennn, apa yang kita yakini (ilmu pengetahuan) maybe saja kedepannya bisa terbantahkan dengan munculnya penelitian dan pembuktian yang baru.

Sering kali karena merasa "Sok Pintar", Orang tua bisa mencari PENCURI IMPIAN TERBESAR DAN PERTAMA dalam hidup anak anak kita. (Sengaja pake huruf besar frennn biar semuanya ngehhh hehehehe). Biarkanlah mereka bermimpi seperti apa maunya mereka hehehe

Kembali anak saya bertanya "Tidak enaknya apa papi jadi orang besar ?"

"Tidak enaknya adalah kita harus menanggung akibat dari apa yang bebas kita pilih dek, Contohnya : Tadi kepingin makan Nasi Padang, namun ternyata Nasi Padangnya tidak begitu enak dan cabenya kepedasan jadinya sakit perut."

"Jadi Orang Besar itulah yang menanggung sendiri sakit perutnya, demikian juga mau jadi Penyanyi, ternyata suaranya jelek dan tidak laku, maka yah tidak ada uang loh"

Anak saya terdiam agak lama, maybe mencerna apa yang saya katakan. Saya kembali membatin, "Apa anak ini mengerti ngak apa yang saya ceritakan" 

"Papi jadi Orang Besar pasti enaklah karena gak perlu belajar dan sekolah, jadi anak kecil khan kita cape belajar ini itu di sekolah"

Busyettt neh anak, ternyata ujung2nya pertanyaannya menjurus ke hal ini wakakakak. Gak boleh salah jawab nehh saya, karena gak mengerti maka mereka bertanya ke kita, Apalagi diomelin, langsung kaburlah anak anaknya dan tidak dekat dengan orang tuanya lagi hehehe

"Orang Besar juga belajar, bahkan harus banyak belajar dek. Lue lihat papi senang baca khan, banyak teman teman papi juga belajar, cuma mereka belajar di kantor, belajar di toko, belajar di banyak tempat lainnya."

Sekelumit pertanyaan anak saya memancing saya untuk berpikir lebih dalam lagi. Anak Kecil sekolah dan terus belajar sd usianya remaja. Lulus SMU atau SMK, lanjut Kuliah lagi (bagi yang minat belajarnya besar) setelah itu berkarya di masyarakat, bekerja, berbisnis atau apapun lah.

Tapi kadang kala "ORANG BESAR" seperti kita ini (bukan tubuh besar yah hehehe) kok malah malas belajar yah hehehe. Justru Orang Besar seperti kita yang perlu belajar lebih banyak dibanding anak kecil di sekolah.

Karena Kemampuan Belajar bila tidak diuprgade maka kita akan menjadi kerdil dan tidak mempunyai nilai tambah di masyarakat. Orang berpengetahuan dan berkemampuan "Kerdil" selalu dihargai "Kerdil" juga.

Sooo Kita belajar dari siapa ?

Kita belajar dari alam semesta, belajar dari kantor kita bekerja, belajar dari tetangga sekeliling, belajar dari orang brengsek sekalipun, belajar dari Pemuka Agama yang suci. Kita senantiasa belajar sampai akhir hayat dikandung badan dan belajar dari sesiapapun.

Maka sangat tepat yang diceritakan Brian Herbert, Kapasitas belajar adalah hadiah, Kemampuan kita untuk belajar adalah ketrampilan, dan Kemauan untuk Belajar adalah Pilihan !

Saya di Tgl 1 Januari 2015 belajar dari anak saya.
Anda belajar dari siapa ?

Semoga bermanfaat !